Cerita dari Batang Batang

“Menikah dan berkeluarga itu untuk di dunia dan akhirat. Oleh karenanya anggota yang ada dalam satu keluarga harus saling menghormati dan memuliakan, antara suami kepada istri, istri kepada suami, bapak kepada anak, ibu kepada anak juga anak kepada ibu dan bapaknya.” (Kepala KUA Kec Batangbatang Bp Hasyim Asy’ari)

Ketika ada pertanyaan tentang usia menikah dalam Islam yang disampaikan salah satu peserta pelatihan fasilitator tingkat kecamatan untuk program pencegahan pernikahan anak beliau menyampaikan bahwa hadis riwayat Hisyam bin Urwah yg kerap dijadikan rujukan pelaku nikah anak statusnya adalah dhoif/lemah. Beliau mengemukan analisis dari sisi sejarah bahwa Asma bin Abi Bakar (istri Nabi) meninggal pada 73 H di usia 100 tahun. Jadi ketika Nabi hijrah dari Mekah ke Madinah Asma berusia 27 tahun. Aisyah dengan Asma berselisih umur 10 th. Mereka kakak beradik. Dengan demikian ketika Hijrah Aisyah berusia 17 tahun. Nabi menikahi Aisyah ketika Hijrah. Dengan demikian Aisyah bukan menikah di usia anak (usia 6 atau 7 tahun). (Semoga tak salah mengutip)

Padahal beliau belum pernah ikut pelatihan Rahima Rumah Bersama maupun Rumah KitaB. Peserta pelatihan menyimaknya dengan takjub tadi. Saya langsung ‘interview’ singkat tadi usai beliau jadi narasumber. Beliau ‘menemukan’ analisis sejarah di atas ketika sedang menyusun thesisnya. Dalam ceramah terbuka hal itu kerap juga disampaikan. Ada banyak lagi pandangan progresif yang disampaikannya. Membuat mata saya berbinar binar he he.

Semoga saja yg disampaikannya ini tersosialisasi ke lebih banyak tokoh agama lainnya hingga upaya pencegahan pernikahan anak dapat terwujud…

Batangbatang, Sumenep, 16 Nov 2017

INI CERITA FASILITATOR REMAJA SAAT AJAK ANAK KE LINGKAR REMAJA

Dian Haneefa | 27-Oct-2017 | 12:12:06

Tugas awal fasilitator remaja yang telah direkrut untuk mengkampanyekan pencegahan pernikahan usia anak ialah membentuk forum Lingkaran Remaja yang diisi 40 anak pada setiap desa/kelurahan. Saat ini, fasilitator dalam tahap perekrutan remaja yang akan bergabung dalam Lingkaran Remaja tersebut. Salah satu fasilitator remaja Kecamatan Mamuju, Rahmiati Ramlie memiliki cerita unik saat mengajak remaja bergabung ke lingkaran.

Perempuan yang akrab disapa Rahmi ini mengaku punya berbagai pengalaman baru saat berhadapan dengan remaja. Katanya, saat mengajak sekelompok anak ke lingkaran, ia mengeluarkan kertas dan pulpen dari tasnya, yang tidak ia sangka, antusias anak-anak untuk menulis, bahkan meminta tambahan pulpen dan kertas kepadanya.

“Menariknya, ada seorang anak yang juga ikut rebutan minta pulpen dan kertas, tapi saat temannya menuliskan alamat rumah, anak itu malah menggambar rute seperti peta, berliku-liku. Belakangan baru saya tahu kalau dia ternyata tidak bisa baca tulis, tapi saya suka semangatnya untuk ikut menulis seperti teman-temannya.” Tutur Rahmi, Kamis (26/10).

Diantara pengalamannya merekrut remaja sejak Selasa (24/10), ia mengaku punya satu cerita yang paling berkesan, yaitu saat mengajak anak-anak penjual stiker di Anjungan Pantai Manakarra. Respon mereka sangat baik, bahkan mereka mengakrabkan diri dengan bercerita tentang aktivitas kesehariannya. Yang berkesan menurut Rahmi, saat momen bertemu kembali dengan anak penjual stiker tersebut lalu anak itu menawarkan stikernya, tapi setelah melihat wajah Rahmi anak itu malah berkata ‘Eh kenapa ku juali ki’ stiker ku’ di’ kak. Hehe…’

“itu yang sangat berkesan menurutku’, mereka batal menawarkan stikernya ke saya, mungkin karena mereka menganggap saya sebagai teman, begitupun dengan saya, saya merasa bagian dari mereka yang semenjak hari itu tidak akan ditawari stiker lagi seperti pengunjung anjungan lainnya, (sambil tertawa) Lucu kalau mengingat ekspresi anak itu.” Guraunya.

Selain itu, Rahmi juga punya pengalaman diabaikan oleh remaja. Ia sempat menghampiri remaja SMP sepulang sekolah, namun dari kurang lebih 10 anak, hanya 3 orang yang bersedia mendengarkannya.

“itu juga tantangannya di kota, ajakan untuk berkumpul bersama orang lain sepertinya bukan hal menarik bagi remaja. Di sini juga terlalu banyak pilihan aktivitas bagi mereka, tapi pada dasarnya mereka ingin belajar yang menyenangkan.” Urai Rahmi yang mendapat wilayah kerja di Kelurahan Binanga.

Berbeda dengan Rahmi, salah satu fasilitator remaja Kecamatan Kalukku Jaja Wiharja yang akrab disapa Panji bercerita, tantangan yang ia temukan saat perekrutan ialah kondisi jalan ke Desa Pamulukang, tempat ia menjadi fasilitator remaja. Di lokasi tersebut tidak seperti jalanan di Kota Mamuju yang mulus-mulus saja, tetapi ia bersama timnya mesti melalui jalanan yang terjal dan berliku. Untungya, kata Panji, anak-anak remaja disana cukup antusias menyambut ajakannya masuk ke Lingkaran Remaja.

“Menuju Desa Pamulukang cukup menguras tenaga, karena kondisi jalannya yang kurang baik, jadi kita mesti ekstra hati-hati mengendarai motor. Untungnya anak-anak di sana cukup antusias, mereka mengharapkan dapat pengetahuan di dalam lingkaran dan memberi contoh ke teman-temannya. Mereka juga semangat untuk mengajak temannya yang lain, karena katanya sudah banyak temannya yang sekarang putus sekolah.” Urainya.

Panji mengaku mendapat respon yang baik dari anak remaja maupun orang tua anak. Meski di balik itu, ia juga sempat mendapat penolakan dari beberapa anak remaja, dengan alasan malu untuk berkumpul bersama orang lain, namun timnya melakukan pendekatan dengan mengajak anak berbincang-bincang, lalu kembali membujuk, sampai akhirnya anak tersebut bersedia ikut lingkaran.

“kami mengakrabkan diri agar anak itu tidak segan dan malu, kami ajak cerita, kami juga sempat meminta air minum di rumahnya, lama-kelamaan anak itu mulai akrab dan mau bergabung di lingkaran, bahkan ia kembali menawarkan air minumnya ke kami. Itu cukup berkesan.” Kata Panji.

Fasilitator remaja diberi waktu hingga tanggal 31 Oktober untuk mengumpulkan 40 nama remaja per desa/ kelurahan. Selanjutnya, dijadwalkan tanggal 7 November, pertemuan perdana Lingkaran Remaja di masing-masing desa/kelurahan. Adapun desa/kelurahan yang terpilih menjadi pilot program yaitu, Desa Karampuang, Desa Batu Pannu dan Kelurahan Binanga untuk wilayah Kecamatan Mamuju, lalu Desa Belang-Belang, Desa Pamulukang dan Kelurahan Kalukku di Kecamatan Kalukku’. (dhl)

http://yayasankarampuang.or.id/hasil_informasi/?berita=ini_cerita_fasilitator_remaja_saat_ajak_anak_ke_lingkar_remaja

KAMPANYEKAN PENCEGAHAN PERKAWINAN USIA ANAK, UNICEF REKRUT FASILITATOR REMAJA

Dian Haneefa | 15-Oct-2017 | 11:35:06

Salah satu upaya pencegahan perkawinan usia anak, UNICEF bekerja sama dengan BKKBN, Yayasan Karampuang, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP/PA) Mamuju, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PP/KB) Mamuju merekrut Fasilitator Remaja. Selama 5 hari, dari tanggal 9-13 Oktober, mereka dilatih dalam Pelatihan Fasilitator Kit Remaja untuk Ekspresi dan Inovasi dalam Mencegah Perkawinan Usia Anak yang berlangsung di Hotel Walet Mas, Mamuju.

Saat pembukaan Senin (9/10), Spesialis Perlindungan Anak UNICEF wilayah Sulawesi dan Maluku, Tria Amelia menyampaikan, salah satu tugas fasilitator remaja adalah mengubah cara pandang remaja mengenai usia pernikahan, sebab saat ini Sulawesi Barat berada pada peringkat ketiga untuk perempuan usia 20-24 tahun yang ditanyakan dengan perkawinannya termasuk perkawinan anak. Ia pun menyebut, berdasarkan data Susenas 2016, Sulawesi Barat berada pada peringkat 10 untuk angka perkawinan anak umur 18 tahun ke bawah, hal tersebut menunjukkan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) juga masih menempatkan Sulbar dalam angka perkawinan anak tertinggi di Indonesia. Pada kesempatannya, Tria juga memberi gambaran mengenai dampak yang ditimbulkan oleh perkawinan usia anak.

“Menurut data BPS, 4 dari 10 perempuan yang menikah usia anak, hanya bisa menamatkan pendidikan SD hingga SMP saja, dampak lainnya, angka perceraian tinggi, tingginya angka kematian ibu dan bayi serta kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT.”

Sementara, Emilie Minnick selaku Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Jakarta, saat penutupan (13/10) melalui translator mengatakan, selama 5 hari berlangsungnya pelatihan, banyak hal yang didapatkan dan diharapkan dapat diterapkan oleh fasilitator remaja dalam kegiatannya menfasilitasi remaja. Yang terpenting menurutnya adalah membekali para fasilitator dengan pengetahuan dan alat bantu bagi remaja nantinya.

Ketua DPRD Kab. Mamuju, Hj. St. Suraidah Suhardi turut hadir menutup pelatihan tersebut. ia beranggapan, ada banyak kendala yang dihadapi dalam berumah tangga di usia muda, seperti kurangnya kesiapan mental menjadi seorang ibu yang berujung pada perceraian dan KDRT. Oleh karena itu, menurutnya, Program Pencegahan Perkawinan Usia Anak patut diapresiasi karena kajiannya masih sangat minim. Ditambah lagi tantangan paradigma kultural dan pesan yang seolah-olah dibuat oleh agama dan sulit ditentang serta tantangan lain berupa kondisi sosial ekonomi.

“Program ini dapat menjadi sebuah langkah melakukan edukasi terhadap remaja yang rentan pada perkawinan anak.” Kata Suraidah.

Untuk Informasi, fasilitator remaja berjumlah 12 orang, 6 orang asal Kec. Mamuju dan 6 orang asal Kec. Kalukku di mana Mamuju dan Kalukku merupakan daerah pilot program pencegahan pernikahan usia anak, yang masing-masing bertitik pada 3 desa/kelurahan, di antaranya, di Kec. Mamuju yakni Desa Karampuang, Desa Batu Pannu dan Kelurahan Binanga, sementara Kec. Kalukku di Desa Pamulukang, Desa Belang-Belang dan Kelurahan Kalukku. 12 orang fasilitator tersebut, berlatar belakang anggota Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja dan anggota Komunitas. (dhl)

http://yayasankarampuang.or.id/hasil_informasi/?berita=kampanyekan_pencegahan_perkawinan_usia_anak,_unicef_rekrut_fasilitator_remaja

, ,

Selamat Hari Anak Universal

20 November menandai hari bahwa PBB pertama kali mengadopsi Deklarasi tentang Hak-hak Anak (tahun 1959) dan juga hari bahwa Konvensi PBB tentang Hak Anak diadopsi 26 tahun yang lalu (tahun 1989). Itu merinci semua hal yang kita percaya setiap anak di planet ini LAYAK dan berharga.
“Satu hal yang semua anak memiliki kesamaan adalah hak-hak mereka. ”
– Ban Ki-moon

PBB mendorong setiap negara untuk merayakan anak-anak pada hari yang penting bagi rakyatnya terlepas hari apapun. Tapi hari ini adalah hari yang baik untuk merenungkan seberapa jauh kita telah datang dalam mencapai hak-hak anak.
– 194 Negara telah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak.
– Kematian Anak telah menurun setengahnya sejak tahun 1990 (tapi 41 dari 1.000 anak perempuan dan anak laki-laki masih mati sebelum mereka berusia 5 tahun.
– Akses ke Pendidikan telah meningkat tetapi, 57 juta anak-anak usia SD masih tidak bersekolah.
(Lihat lagi kemajuan di: http://www.unicef.org/photography/photo_crc25.php)

Tapi masih ada jalan panjang untuk berjuang. Do you know?
Hari ini:
– 250.000 anak masih dipaksa untuk melawan dalam konflik bersenjata sebagai tentara anak-anak
– 5,5 juta anak bekerja dalam bentuk pekerjaan terburuk untuk anak / buruh anak / child labour
– 41% dari populasi 15 juta pengungsi dunia adalah anak-anak.

Konvensi PBB tentang Hak Anak telah membawa kita sangat ke depan, dengan keuntungan besar yang dibuat agar anak dapat menikmati hak-haknya. Tetapi jelas terlihat bahwa perjuangan masih panjang dan still a lot of work to be Done.
Semangaaatt! 😊

, ,

Selamat Hari Anak Perempuan Internasional

Selamat Hari Anak Perempuan Internasional! Today’s Girls, Tomorrow’s Leaders. Plan Internasional, Unicef dan Jaringan AKSI remaja perempuan Indonesia merayakannya dengan mengundang 21 peserta dari seluruh Indonesia, 3 diantaranya survivor dari pesantren di Cirebon dan Sumenep dan 1 santri berprestasi dari Cipasung. Tema IDG tahun ini ” Sehari Menjadi Menteri: rekomendasi remaja atasi perkawinan Anak”. Pagi ini ke 21 anak-anak remaja perempuan dan lelaki akan berada di KPPA menyelenggarakan rapat pimpinan untuk melahirkan rekomendasi. Sore nanti mereka akan diterima dan berdialog dengan ibu Sinta Nuriyah di Ciganjur. Rumah Kitab menjadi satu lembaga pelaksana kegiatan IDG. Hormati hak anak penuhi kebutuhannya untuk tumbuh kembang secara sehat dan bermartabat#kawinanakbukansolusi

, ,

#IDG2017

Anak perempuan membutuhkan figur positif yang memberikan alternatif selain perkawinan usia anak. Ceritakan pada kami siapa figur kamu dan mengapa?

 

#IDG2017 #girls

, ,

YCG Takeover Bridging #IDG2017

Takeover YCG

for facebook and twitter (mirrorring)

 

Media Diskusi sudah berakhir, namun tidak dengan spirit Plan
International Indonesia untuk menyambut Hari Anak Perempuan
International Setiap tahunnya Hari Anak Perempuan Internasional
menjadi hari dimana kita membuat kehidupan anak perempuan yang
‘tidak terlihat’ – baik keadaan maupun kekuatan mereka – menjadi
benar-benar terlihat.

 

Tahun lalu Plan International bekerja sama dengan KPPPA dan
Kemenaker. Salah satu hasil nyata rekomendasi IDG 2016 adalah YCG
yang juga diinisiasi oleh sekelompok anak muda yang menjadi
penasehat Plan. Youth Coalition for Girls, koalisi kaum muda
Indonesia yang berjuang untuk pemenuhan hak anak perempuan,
agen perubahan untuk mencapai kesetaraan anak perempuan dan
mendorong kaum muda untuk aktif dalam pengambilan keputusan
bagi anak perempuan.

 

Kalian juga bisa lho, mengenal lebih dekat perwakilan-perwakilan
Youth Coalition for Girls ini, karena mereka akan take over Facebook
& Twitter Plan International Indonesia. Penasaran apa yang akan
dibahas? Pastikan kalian pantau twitter @planindonesia
#GirlsTakeOver #IDG2017 #mikirkawin #PlanInternationalIndonesia